Berpetualang di Tanah Kelahiran
Selasa, 7 Juni 2022
Siang itu sehabis bubaran dari sekolah dan setelah selesai menghadiri sholat jenazah di mana sekolah tempatku bertugas, aku bersama mitra kerjaku tanpa direncanakan sebelumnya ingin pulang lewat jalur yang tak pernah kami lewati selama bertugas di sana. Terlihat dibalik wajah sebagian guru-guruku ada yang tampak ragu. Suatu kewajaran karena jalan yang akan kami lewati bukanlah jalan hitam mulus berhotmix. Jalan itu adalah jalan terjal merah, beberapa ruas terdapat bebatuan dan cekungan kecil sedikit berlumpur. Namun, bagiku itu belumlah seberapa dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Setelah beberapa ratus meter kami berjalan menyisiri tepi bebukitan dan sekali waktu menanjak akhirnya aku dan mitraku sampai pada suatu tempat di bawah puncak, namaya Puncak Gunung Bun Beleng. Sepeda motor segera kuparkir dan tanpa sabaran memandang sejauh mata memandang ke segala penjuru. Tanpa tersadar aku mendengar salah seorang guru berkata "Beratnya perjalanan tadi terbayar dengan indahnya ciptaan Sang Ilahi". Aku sebagai seorang anak yang terlahir 46 tahun silam di balik puncak bukit itu baru sadar ternyata tanah kelahiranku sangat indah.
Heporia teman-teman yang lain mulai terlihat. Kami berpecah mencari tempat masing-masing. Ada yang tampak kegirangan sambil meminta teman yang lain mencekrek-cekrek bayangannya menggunakan smartphone kesayangannya. Luar biasa sekali siang itu. Suasana mendung bersahabat bersama desiran angin puncak seakan mengucapkan selamat datang pada kami. Sekujur badan yang berpeluh berubah menjadi segar karena oksigen yang kami hirup terbebas dari poplusi.
Tanpa kusadari tiba-tiba saja seorang kakek tua tak berbaju dengan sekujur tubuhnya yang mulai mengeriput hadir di antara kami. Sungguh aku tak melihat dari mana beliau datang. Tanpa basa-basi seorang temanku bernama Muhamat Azuar tanpa ragu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Kukira akan memberi selembar uang kertas. Eh, tak tahunya dia mengeluarkan rokok kemudian memberi sang kakek. Rupanya kakek itu sangat senang diberi sebatang rokok. Dia pun segera membakar rokok itu dengan disulutkan sang pemberi. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Spontanitas cekrek-cekrek bunyi hp mengabadikan momen itu. Terlihat keikhlasan di sana. Obrolan ringan pun terjadi. Kami mencoba berkomunikasi dengan kakek menggunakan bahasa daerah.
Kami tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menikamati keindahan alam di puncak itu. Kulihat ke sebelah barat, terlihat betapa indahnya selat Lombok yang diujung penglihatan tampak Gunung Agung di Pulau Bali menjulang tinggi yang tak akan goyah diterpa angin badai. Tampak kapal yang lalu lalang dari kejauhan semabari mendekatkan pandangan hingga kulihat tempat tinggalku di kaki gunung itu. Terlihat betapa indahnya Pelabuhan Lembar dan Pantai bagian barat Pulau Lombok. Kualihkan pandangan ke selatan, jejeran bebukitan memberikan nuansa tersendiri bagi Pulau Seribu Masjid ini. Sungguh luar biasa, indah sekali. Indera penglihat seakan tak sabar menengok ke kiri. Kubuka mata ini lebar-lebar. Kurang lebih dua setengah kilometer puncak Gunung Mareje memberikan pesona cantik di bawah gugusan awan sedikit kelabu. Wah, semakin puas rasanya hati ini. Dalam suasana itu terdengarlah syair dari seorang rekanku "Wahai manusia, kalau kalian memandang bahwa kota itu sangat indah, maka itu hanya tipuan belaka. Namun, ketika kalian memandang keindahan alam yang alami ini, maka kalian akan langsung bersujud kepada yang menciptakannya." Sungguh luar biasa, rasa lapar pun kami lupakan.
Selang beberapa lama, kamipun mengabadikan kisah kami di sana dengan berfoto bareng. Secara bergiliran di antara kami menjadi sukarelawan sebagai fotografer dadakan. Karena waktu sudah agak siang, kami pun menyudahi menikamati indahnya pemandangan alam dari bukit itu sambil berkata "Besok suatu saat kita akan kembali di sini dan harus sampai di puncaknya".
Salam dari kami guru-guru hebat yang bertugas jauh dari keramaian.








wah, kakek itu senang dikasih rokok yang berisi racun .... smg beliau panjang umur
BalasHapus