Mengenal Penerbit Indie
Jumat,
24 Juni 2022
Petemuan
ke-17 Kelas Belajar Menulis PGRI
Narasumber : Mukminin, S.Pd., M.Pd
Moderator : Lely Suryani
Pertemuan
ke-17 ini adalah pertemuan yang paling berat yang aku rasakan. Sejak seharian
penuh mulai dari pagi hingga sore hari hari, saya harus mengikuti pelatihan
peningkatan kapasitas guru inspiratif nusantara. Sejak pagi hingga malam
pertemuan ke-17 BM Gelombang 26, kepala saya pusing sekali mungkin karena
factor kecapaian. Sejak tanggal 23 Juni
hingga 25 Juni 2022 harus mengikuti kegiatan di tempat yang begitu terpencil
dengan suasana lingkungan yang masih berdebu dan factor lainnya. Maklum saja
lokasi itu masih dalam proses pengerjaan belum rampung seratus persen.
Setelah
pulang dari pelatihan dan sholat ashar, kepala saya sangat pusing, saya pun langsung
tidur. Begitu juga setelah sholat maghrib karena kepala masih pusing dan mual,
saya pun kembali tidur. Karena malam ini ada jadwal pelatihan belajar menulis
asuhan Om Jay, saya pun memaksakan diri untuk mengikuti walaupun tidak terlalu
maksimal.
Seperti
biasa sebelum narasumber memberikan materinya kepada peserta, moderator
terlebih dahulu memperkenalkan diri juga narasumber. Dalam kesempatan itu,
moderator memperkenalkan narasumber dengan memposting CV narasumber dalam
bentuk pdf. Selain dalam bentuk file pdf, CV narasumber juga bisa diklik
melalui tautan https://cakinin.blogspot.com/2020/10/curiculum-vitae.html
Setelah
mengenal sosok narasumber secara detile, selanjutnya narasumber memaparkan
marteri sebagai berikut. Adapun materi
malam ini adalah Mengenal Penerbit Indie.
Pada
zaman melinial ini semua orang bisa menulis dan menerbitkan buku. Baik sebagai
pelajar, mahasiswa, pegawai, guru, dosen, maupun wiraswasta. Menulis dan
menerbitkan buku itu mudah, tidak serumit yang dibayangkan. Apalagi sebagai seorang guru
pasti bisa menulis baik fiksi maupun karya ilmiah. Guru memiliki banyak kisah
dan pengalaman inspiratif. Hal tersebut perlu ditulis dan terbitkan menjadi
sebuah buku sehingga bisa bermanfaat untuk orang banyak.
Uintuk
bisa terlatih menulis memang butuh ketekunan dan perjuangan. Selain itu, perlu
juga tekad dan motivasi tinggi agar tidak goyah saat menjalani proses menulis. Berbicara
motivasi, ada banyak kata-kata untuk menumbuhkan semangat dalam menulis.
Melalui kata-kata mutiara tentang menulis bisa menjadi motivasi agar sukses
dalam berkarya. Beberapa kata mutiara untuk menyemangati diri dalam menulis sebagai
berikut.
1. “Semua
orang akan mati kecuali karyanya, maka tulislah sesuatu yang akan membahagiakan
dirimu di akhirat kelak". - Ali bin Abi Thalib
2. "Kalau
kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah
penulis". - Imam Al-Ghazali
Tahapan
Cara Menulis dan Menerbitkan Buku yang Tepat.
Seorang
yang ingin bisa menulis dan menerbitkan
buku, maka perlu memahami tahapan menerbitkan buku. Ada 5 tahapan yang harus
dilalui:
1. Prawriting
a. Tahap
awal penulis mencari ide apa yang akan ditulis dg peka terhadap sekitar ( Pay
attention).
b. Penulis
hrs kreatif menangkap fenomena yg terjadi di sekitar untuk menjadi tulisan.
c. Penulis
banyak membaca buku.
2. Drafting
Penulis mulai menulis naskah buku sesuai yang dengan apa yang disukai ( pasion). Boleh menulis artikel, cerpen, puisi, novel dan sebagainya dengan penuh kreatif merangkai kata, menggunakan majas, dan berekspresi untuk menarik pembaca.
3. Revisi
Setelah naskah selesai maka kita lakukan revisi naskah.
4. Editing/swasunting
Setelah
mervisi naskah tulisan, kita akan masuk ke tahap editing. Penulis melakukan
pengeditan, hanya memperbaiki berbagai kesalahan tanda baca, kesalahan pada
kalimat. Tahap ini boleh dinamakan sebagai "Swasunting" yaitu
menyunting tulisan sendiri sebelum masuk penerbit.
5.
Publikasi
Jika naskah yang berupa tulisan sudah diedit dan yakin sudah menjadi naskah buku, maka kita akan memasuki tahap publikasi atau penerbitan buku.
Selanjutnya
sebelum menerbitkan buku, kita harus mengenal penerbit yang sesuai dijadikan
tempat untuk menerbitkan buku. Penerbit itu ada dua macam yaitu Penerbit Mayor
dan Penerbit Indie. Apa perbedaan kedua penerbit ini?
Kedua
penerbit ini bisa kita bedakan berdasarkan:
1. Jumlah
Cetakan
Penerbit
mayor mencetak
bukunya secara masal. Biasanya cetakan pertama sekitar 3000 eksemplar atau
minimal 1000 eksemplar untuk dijual di toko-toko buku.
Penerbit indie hanya mencetak buku apabila ada yang memesan atau cetak berkala yang dikenal dengan POD ( Print on Demand) yang umumnya didistribusikan melalui media online Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, WA grup dll.
2. Pemilihan
naskah yang diterbitkan
Penerbit Mayor, naskah harus
melewati beberapa tahap dan prosedur sebelum menerbitkan sebuah naskah. Tentu saja
menyambung dari poin-poin pertama, penerbit mayor mencetak bukunya secara
masal1000 atau 300 eksemplar. Mereka ekstra hati-hati dalam memilih naskah yang
akan mereka terbitkan dan tidak akan berani mengambikl resikountuk
menerbitkan setiap naskah yang mereka terima. Penernit mayor memiliki
syarat-syarat yang ketat harus mengikuti selera pasar dan tingginya tingkat
penolakan.
Penerbit Indie tidak menolak naskah,
selama naskah tersebut sebuah karya yang layak diterbitkan, tidak melanggar
undang-undang hak cipta karya sendiri, tidak plagiat, serta tidak menyinggung
unsur sara dan pornografi.
3. Berdasarkan
profesionalitas
Penerbit Mayor didukung oleh banyak
sumber daya manusia yang professional di perusahaan yang menerbitkan buku.
Penerbit Indie professional tetapi
sering disalah artikan. Banyak sekali anggapan menerbitkan buku di penerbit
indie asal-asalan, asal cetak, jadi, jual. Sebagai penulis harus jeli siapa
yang akan menjadi penerbit. Jangan tergoda dengan paket penerbitan murah,
tetapi kualitas masih belum jelas.
4. Berdasarkan
waktu penerbitan
Penerbit Mayor
Pada umumnya sebuah
naskah diterima atau tidaknya akan dikonfirmasi dalam tempa 1-3 bulan, jika
naskah diterima, maka waktu terbitnya bisa cepat atau lambat. Karena penerbit
mayor adalah penerbit besar, maka banyak sekali pekerjaan yang harus dilalui.
Penerbit Indie
Penerbit indie akan
segera memproses naskah yang sudah diterima dengan cepat. Dalam hitungan minggu
buku sudah terbit. Karena penerbit indie tidak fokus pada selera pasar yang
banyak menuntut ini dan itu. Penerbit indie menerbitkan karya yang penulisnya
yakin karya tersebut adalah karya terbaiknya dan layak diterbitkan sehingga
tidak memiliki pertimbangan rumit dalam menerbitkan buku.
5. Berdasarkan
royalty
Penerbit Mayor
Kebanyakan penerbit
mayor mematok royalty penuli maksimal 10% dari total penjualan. Biasanya
dikirim kepada penulis setelah mencapai angka tertentu atau setelah 3-6 bulan
penjualan buku.
Penerbit Indie
Umumnya 15% dari
harga buku. Dipasarkan dan dijual penulis melalui media social.
6. Berdasarkan
biaya penerbitan
Penerbit Mayor
Biaya penerbitan
gratis. Itulah sebabnya mereka tidak bisa langsung menerbitkan buku begitu saja
sekalipun buku itu dinilai bagus oleh mereka. Penerbit mayor memiliki
pertimbangan dan tuntutan yang banyak untuk menerbitkan sebuah buku, karena
jika buku tersebut tidak laku terjual maka kerugian hanya ada di pihak
penerbit.
Penerbit Indie
Berbayar sesuai dengan
aturan masing-masing penerbit. Antara penerbit satu dengan yang lain berbeda
karena pelayanan dan mutu buku yang diterbitkan tidak sama.
Alhamdulillah resume
terkait materi Mengenal Penerbit Indie telah selesai. Sekarang baru saya faham
tentang dunia penerbit terutama penerbit indie. Semoga dalam waktu dekat saya
bisa menerbitkan sebuah buku walaupun di penerbit indie. Terima kasih
narasumber dan moderator juga tim solid Om Jay atas pengalaman
dan ilmu-ilmunya.
Wassalamualaikum
Wr. Wb.
Diary
Salam
Literasi

Komentar
Posting Komentar