Menjadi Penulis Buku Mayor
Kelas
Belajar Menulis PGRI
Gelombang
26
Pertemuan
ke-21
Menjadi
Penulis Buku Mayor
Menjadi penulis buku
mayor?
Bagamana caranya?
Pada
pertemuan ke-21 ini narasumber luar biasa yang merupakan Direktur Penerbit Andi
dan Ketua IKAPI DIY Bapak Joko Irawan Mumpuni akan memberikan penjelasan secara
detil bagaimana cara : “Menjadi Penulis Buku Mayor.”
Pada kesempatan ini, peserta pelatihan yang sekaligus merupakan penulis pemula akan diberikan materi terkait dengan bagaimana agar bisa menjadi penulis buku mayor. Tentu untuk menjadi bagian dari penulis buku mayor bukan perkara mudah. Untuk menjadi penulis buku mayor seorang penulis pemula harus mengalami ujian yang berat. Kemungkinan naskah tulisan yang dihasilkan untuk diterima sangat kecil dan bahkan bisa jadi ditolak. Pada kesempatan ini narasumber akan memberikan penjelasan terkait dengan kriteria tulisan yang bisa maupun tidak bisa diterima oleh penerbit mayor.
Penerbit adalah industry kreatif. Dalam industry kreatif ada terdapat kolaborasi para insan yang kreatif, penulis, editor, illustrator, dan desain grafis.
Dua kategori besar jenis
buku adalah buku Teks (buku sekolah-kampus) dan buku Non Teks (buku-buku
populer). Buku sekolah disebut buku pelajaran Buku pelajaran terdiri dari buku
pelajaran SD, SMP, SMA., MA, dan SMK. Sedangkan kampus disebut buku Perti
(perguruan tinggi). Sedangkan buku perguruan tinggi diperuntukkan untuk
mahasiswa dan dosen. Buku Nonteks dibagi
dua lagi menjadi buku Fiski dan Non Fiksi. Sehingga grafisnya akan tergambar seperti ini
gambar di bawah ini.
Grafis-grafis hasil survey terkait perbukuan di Indonesia sebagai berikut.
Hasil
survey terkait persentase jumlah orang yang membeli satu buku dalam satu tahun
sebagai berikut.
a. Pembeli wanita sebanyak 61%, sedangkan
wanita 65%.
b. Tempat membeli buku senayak 47% di toko,
31% di perspustakaan, 12% dari teman, dan tidak membaca 10%.
Format
buku yang sering dibeli orang Indonesia sebagai berikut.
a. Buku biasa di toko buku sebanyak 73%.
b. Buku biasa di toko online sebanyak 55%.
c. e-books di toko online sebanyak 27%.
d. Subskripsi berbayar sebanyak 6%.
e. Audiobook di toko online 2%.
f. Download gratis 31%.
g. CD audiobooks sebanyak 6 orang.
Fakta
utama mengapa membeli buku?
Yang
yang menyebabkan orang membeli sebagai berikut.
a. Adanya harga diskon sebanyak 43%.
b. Rekomendasi dari teman sebanyak 33%.
c. Lihat review blogger sebanyak 27%.
d. Buku yang sudah difilmkan sebanyak 6%.
e. Buku pemenang penghargaan sebanyak 41%.
f. Desisi sendiri sebanyak 49%.
Opini
tentang harga buku adalah sebagai berikut.
a. Harganya murah 57%.
b. Harganya masuk akal sebanyak 27%
c. Harganya sedikit tinggi sebanyak 10%.
d. Harganya terlalu mahal sebanyak 6%.
Sedangkan alasan mengapa orang itu membeli buku sebagai berikut.
a. Untuk hadiah sebanyak 57%.
b. Karena suka membaca sebanyak 49%.
c. Untuk belajar/kerja sebanyak 27%. Dan
d. Untuk obat menghilangkan setres.
Seberapa sering orang
Indonesia membeli buku?
Orang Indonesia membeli
buku sesuai dengan kebutuhannya di . Adapun orang Indonesia yang membeli buku
sebagai berikut.
a. Membeli buku sekali seminggu sebanyak 7%.
b. Sekali dalam dua Minggu 4%.
c. Sekali dalam sebulan firus dan antivirus.
d. Beberapa kali dalam setahun sebanyak 56%.
Dalam
kalangan pembaca, buku yang paling diminati adalah sebagai berikut.
a. Fiksi sebanyak 75%
b. Nonfiksi sebanyak 41%.
c. Bisnis sebanyak 33%.
d. Seminar popular sebanyak 33%.
e. Sains popular sebanyak 31%.
f. Literatur hobby sebanyak 24%.
g. Literature sains dan teksbook sebanyak
22%.
Itulah gambaran
perbukuan di Indonesia yang dapat dijadikan sebagai inspirasi dalam penulisan
buku.
Berikut ini
adalah contoh buku-buku yang sudah terbit dengan beragam jumlah penulis.
Untuk
mengetahui di level mana kita saat ini sebagai seorang yang ingin menjadi
seorang penulis, perhatikan gambar berikut ini.
Untuk
mengetahui ekosistem industry perbukuan dapat dipahami lewat diagram berikut
ini.
Industri penerbitan tidak selamanya dapat tumbuh dengan
pesat. Dalam industri penerbitan/literasi juga mengalami hambatan. Adapun
penghambat industri penerbitan dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:
1. Minat baca (budaya baca,
kurangnya bahan bacaan, dan kualitas bacaan).
2. Minat tulis (budaya
tulis, tidak tahu prosedur menulis dan penerbitan, dan anggapan yang salah
tentang dunia penulisan dan penerbitan).
3. Apresiasi hak cipta
(pembajakan, buplikasi non ilegal, dan perangkat hukum).
Bagaimana
proses penerbitan buku? Proses penerbitan mulai dari memasukan/mengirinmkan naskah buku ke
penerbit hingga buku itu terbit dan beredar. inilah gambarnya.
Setelah
mengetahui bagaimana proses dari menulis buku hingga beredar di pasaran, maka
langkah yang harus dilalui adalah menerbitkan buku. Hanya saja dalam
menerbitkan buku harus waspada. Tidak semua penerbit baik dan jujur. Oleh
karena itu seorang penulis buku harus selektif dalam menentukan penerbit yang akan menerbitkan bukunya.
Mengapa
kita harus menulis? Apa yang didapatkan ketika penulis tersebut sudah berhasil
menerbitkan buku secara profesional dan diterbitkan oleh penerbit yang
bereputasi?
Penulis
yang sudah bisa menerbitkan buku secara professional tentu akan mendapatkan
sesuatu yang sebelumnya mungkin tidak pernah terbayangkan olehnya. Adapun yang
diperoleh oleh penulis profesional, yaitu:
1.
Kepuasan
bathin
2.
Reputasi
3.
Karir
meningkat
4.
Peningkatan
finansial.
Pertanyaan
besar yang sering muncul adalah apa kriteria agar naskah buku dapat diterima
oleh penerbit untuk dapat diterbitkan. Karena tidak semua naskah dapat
diterima. Sebagai contoh penerbit ANDI itu tiap bulan menerima naskah masuk
bisa sampai 500 nasakah. Namun yang diterima untuk diterbitkan hanya 50 Judul
saja. Inilah kriteria penilaiannya:
Pasti
sekarang ada yang bertanya 'lalu apa yang dimaksud dengan tema populer
bagaimana cara menilainya? tenatunya jawabnya dengan data. Salah satu data yang
kami pakai adalah trend dari google trend. contohnya:
Apakah
buku yang membahas/tema tentang BATU AKIK akan diterima?
Kalau
melihat gambar tersebut, tentu tema batu akik sudah tidak ngetren lagi. Jadi
untuk memasarkan tulisan yang bertema batu akik akan mengalami kesulitan dan
bahkan jarang yang berminat karena sudah tidak ngetren lagi. Begitu juga
tulisan yang bertema pemasaran tentu akan kalah ngetren dengan istilah
marketing.
sebagai
seorang penulis, sebenarnya kita termasuk penulis yang idealis atau
industrialis? inilah ciri-ciri masing-masing kelompok:






.jpeg)
.jpeg)





Komentar
Posting Komentar